Inilah Saya

Saya Di Tengah Kebun Trembesi

Ditengah-tengah 100 Pohon Trembesi

Assalamu’alaikum wr wb

Inilah saya dengan apa adanya. Alhamdulillah, saya berdoa semoga sedulur netter selalu sehat bersama keluarga, kerjaan lancar dan dolar sudah mengalir bancar penuh barokah, amin.

Saya, Sudjono Arif Fauzan, lahir di Kota Brem, Madiun, Jawa Timur, tahun 1967 lalu. Masa kecil di kota pabrik sepur ini, saya habiskan bersama sedulur-sedulur di desa Mlilir, Kecamatan Dolopo, sekitar 20 Km arah selatan Madiun. Jadi sebenarnya lebih dekat dengan Kota Reog, Ponorogo, karena cuma 8 Km.

Rumah saya dekat dengan kali Asin, sebagai garis perbatasan kedua kabupaten ini. Itulah sebabnya bermain di kali ini adalah bagian dari masa kecil saya, selain bersawah. Kali Asin, sekitar 1980-an masih nikmat untuk bermain. Kalinya lebar dengan pasir lembut berwarna hitam dan putih. Batu-batunya berbagai  ukuran, mulai seukuran kelereng, sekepalan hingga sebesar bola sepak. Bagusnya hampir semua batunya adalah halus bulat-bulat. Ada juga beberapa bongkahan batu cadas.

Waktu itu airnya juga masih jernih. Saya sering mencari ikan lele, dendeng, dan udang bareng temen-temen sepermainan, hanya dengan membalik-balik batu-batu kecil di air. Sesekali menggunakan getah pohon jenu. Bagian kali yang ada batu cadas dan agak tergenang dibendung, lalu akar pohon jenu ditumbuk dan getahnya di campurkan ke air. Getah pohon jenu ini membuat ikan-ikan menjadi wodal atau mabuk. Lalu klepek-klepek di permukaan air. Saya seneng banget nyeroki  (mengambil pakai serok) ikan-ikan tersebut. Njenu ikan ini biasanya dilakukan orang-orang dewasa, saya hanya pupuk bawang.

Kadang-kadang juga pakai bubu dari banbu yang dipasang pagi hari dan sorenya diambil. Senengnya kalau ada ikan yang masuk bubu. Pernah sekali yang terperangkap bukan ikan tetapi seekor ular, maka bubu segera saya lempar ke bebatuan di pinggir kali sambil berteriak,” Ulo…!”

Bila musim hujan sering terjadi banjir sehingga airnya meluap. Banyak bebek dan pohon-pohon ikut kintir. Saya bersama temen-temen sering menghadang awal  atau “ndas-ndasan” banjir yang masih kecil setinggi mata kaki. Sambil berjalan mundur kami raup atau cuci muka. Saat itu para orang tua percaya bila kita bisa cuci muka dengan ndas-ndasan banjir maka umurnya akan panjang. Saya yang belum pahan agama, ya ngikut saja. Padahal itu termasuk syirik. Astagfirullah… Tetapi memang sangat asyik lho

Usai SMA, saya merantau  ke Malang, meneruskan kuliah karena lulus ujian sipenmaru (he.he.. maaf lupa singkatannya. Pokoknya tes saringan masuk ke Perguruan Tinggi). Empat setengah tahun saya kuliah di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.  Tentu saja dengan berbagai liku-liku romantika kehidupan anak kampus yang kos.

 Alhamdulillah semua saya jalani dengan wajar tanpa syarat. Meski IP tak bagus-bagus amat yang penting waktu wisuda tahun 1991, ibu dan bapak terlihat bahagia dan bangga banget melihat anaknya memakai baju kebesaran dan topi unik tanda lulus jadi sarjana. Ya, saya memang satu-satunya dari keluarga yang berhasil sekolah tinggi dan jadi sarjana. Sementara saya sendiri, sumpah waktu itu biasa-biasa saja. Jahat ya..?

Setelah jadi sarjana, inilah yang menjadi kebingungan saya. Mau kerja apa? Dimana? Bagaimana caranya? Atau mau beternak? Kan sarjana peternakan. Aduh..! Judeg saya. Saya kontak temen-temen yang sudah jadi sarjana duluan. Mau konsul. Tak ada jalan keluar karena mereka nasipnya sama. Bingung!

Dari kakak-kakak kelas yang sudah bekerja saya mendapat jawaban. Disuruh membuat lamaran ke berbagai perusahaan peternakan yang jumlahnya cukup banyak. Maka Majalah Peternakan Ayam & Telur yang saya koleksi, karena ada artikel-artikel saya dimuat disana, saya bongkar. Puluhan perusahaan peternakan saya catat. Dan inilah pekerjaan resmi saya yang bergelar sarjana perternakan, menulis puluhan surat lamaran. Kadang saya merenung, “Wah…, lebih enak jadi mahasiswa!”

Menunggu sebulan tanpa hasil, saya jadi gerah dan malu luntang-lantung di kampung. Saya pun ijin dan mohon doa pada ibu untuk merantau ke Jakarta. Di kota yang sibuk ini, saya mengajar les privat, mengikuti jejak sahabatku yang juga sarjana peternakan dan belum dapat job. Tentu saja profesi menulis surat lamaran tak pernah kutinggalkan he..he…

Alhamdulillah, beberapa panggilan tes saya ikuti meski belum ada nyantol. Sambil mengajar saya juga mengirim beberapa artikel ke majalah peternakan. Saya pun ikut kursus menulis. Siapa tahu bisa jadi wartawan. Gayung pun bersambut. Saya dipanggil untuk jadi wartawan di Majalah Peternakan Ayam & Telur. He..he.. aneh ya namanya. Tetapi tahun itu majalah ini ngetop lho..ya tentuny untuk kalangan peternak.

Sekitar 6 tahun saya berusaha mengembangkan mendia tersebut, sayangnya belum berhasil. Berbagai ilmu yang saya peroleh dari workshop-workshop di Serikat Penerbitan Suratkabar (SPS) belum bisa membantu. Saya pun nyerah dan merintis di media baru, Majalah Koin dan Majalah Netral (majalah untuk UKM). Belum beruntung juga. Saya pindah ke Tabloid Sinar Tani dan Majalah Trobos (majalah peternakan dan perikanan) namun hanya bertahan sekitar 1 tahun.

Perjalanan berikutnya melanglang di dunia entertaint. Bersama Mas Soegeng dan Cak Mus Mulyadi bergabung di Bolodewe Enterprise dan Satu Rasa Productions. Sebenarnya hati saya engak sreg. Kerja hingga larut malam, keluar masuk restoran, café dan PH, meski pendapatan lumayan.

Tahun 2000 inilah babak baru kehidupan saya. Bersama Mas Soegeng dan beberapa temen kami merintis KATV (Kereta Api TV). Kantornya di Tebet arah Manggarai, daerah banjir. Jadi setiap hujan deras kantor yang sebenarnya rumah kontrakan ini selalu kebanjiran. Meski begitu saya tetap semangat. Setiap pagi dan sore bergelantungan di dalam KRL yang penuh sesak, mandi sauna dengan ribuan aroma untuk berangkat dan pulang kerja.

Setelah  jatuh bangun selama 3 tahun, KATV mulai melaju di jalur rel bisnis. Kantor pun pindah ke Pesona Khayangan Estate,Depok.  Selanjutnya memiliki House of Ilalang di Pesona Depok Estate. Tahun 2006 kami menerbitkan Majalah Kereta Api (MKA) dan mulai membangun sebuah group usaha dibawah bendera PT Kiprah Tiga Rancang (Kitiran) dengan anak perusahaan PT Ilalang Sakti Komunikasi. Laju usaha KATV Group, alhamdulillah semakin kencang. Usaha kami terus berkembang, beberapa anak perusahaan pun dibentuk.

Saya sendiri kini mengelola penuh usaha PT Ilalang Sakti Komunikasi dengan 5 divisi: Penerbitan & Percetakan, Travel Umroh Haji, Advertising & Jasa Distribusi, Java Green Plantations, ATK Perkantoran, dan Internet Marketing.  Divisi Travel Umroh Haji  dan Internet Marketing (kursus online dan offline cara membuat web, domain murah, web hosting murah, membuat web wordpress, jasa pembuatan web, dan toko online) adalah salah satu divisi yang kami andalkan untuk masa 2-3 tahun mendatang sebagai pasive income.Insya Allah divisi ini akan meledak, mengalirkan rupiah dan dolar yang melimpah, amin.

Oya..Kini saya bersama isteri dan tiga putra putri tinggal di “Perumahan Mertua Indah” Cilodong, pinggiran Depok bagian selatan. Tepatnya di Jl. Raya Bogor Km.37 Sidamukti, Sukamaju, berdekatan dengan Villa Pertiwi. Sedang basecamp sehari-hari ada di Majalah Kereta Api – Prasasti, Sa;ladin Square B-12, lantai 2, Jln. Margonda Raya No.39, Seberang ITC, Depok, Jawa Barat.

Sedulur netter, mohon doanya ya, semoga usaha saya terus berkembang penuh barokah. Saya juga berharap silaturahim ini bisa terus bersambung. Nyuwun ngapuro sudah cerita panjang banget.

Hatur nuwun dan salam sukses mulia untuk sedulur netter semua.

Wassalam

Sudjono AF

Email: sudjonoaf@majalahka.com. FB: www.facebook.com/sudjono af/

HP: 0813 880 97656

6 Responses to Inilah Saya

  1. Semoga usahanya terus berkembang penuh barokah. Dan Divisi barunya maju terus.

  2. koran tempo says:

    Perjuangan hidup yang benar2 penuh inspirasi ,
    semoga semangkin sukses Pak 🙂

  3. manfaat website says:

    Sukses selalu pak jono…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *